“bagaimana mungkin kau berkata, bahwa kaulah matahari? (SDD)”
apakah pernah ada keinginanmu untuk menjadi matahari? entahlah dengan saya, saya ingin menjadi banyak hal. selama ini saya mengenal hal baru dan melahirkan keinginan-keinginan baru juga. entah juga sudah sejauh mana saya melangkah, saya bahkan sudah lupa saya ingin menjadi apa saja…
hanya saja sekarang saya sedang tidak ingin menjadi siapa saya hari ini. what a strong words, indeed…. bukan, ini bukan suatu bentuk putus asa, hanya sedikit keluhan saja kok! saya tahu saya bisa berubah, keadaan akan berubah, dunia dan segala-galanya akan berubah…. seperti sebuah kalimat klise yang dulu sering kudengar… “segala sesuatu pasti berubah, yang tetap hanya perubahan itu sendiri”
bahkan, saat mengetik ini sudah terlintas sekilas apa yang saya ingin jadi siapa esok hari! bukan, saya bukan ingin menjadi matahari… saya hanya ingin menjadi orang biasa! saya ingin menjadi orang biasa yang menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja, ordinary life…. baiklah, pesimisme seperti ini mungkin akan mengelitik orang-orang yang sedang memperjuangkan kehidupan yang luar biasa, tapi itu hak kalian kok…. sebagaimana ini hak saya untuk menginginkan kehidupan yang biasa-biasa saja saat ini.
ordinary man bukan sebuah bentuk kemunduran atau kepasrahan menurut saya, ordinary man hanyalah suatu langkah yang kecil dari nowhere man. saya hanya bosan dengan lingkungan yang selalu menuntut kita untuk menjadi orang-orang super, dengan pandangan masyarakat yang melabeli kita dengan hal-hal atau orang -orang yang sebenarnya bukan kita. ada satu jargon motivasi yang selalu coba saya gugat, “kalau orang lain bisa, kenapa kau tidak bisa?”. ok, itu suatu jargon yang cukup bagus sebenarnya. tapi yang selalu mengherankan saya adalah kenapa saya harus “bisa” seperti orang lain? saya bukan orang lain, orang lain juga bukan saya. satu (bahkan mungkin satu-satunya) ilmu yang sempat saya pelajari selama kuliah di jurusan komunikasi adalah prinsip dasar bahwa setiap orang itu unik, tak ada seorangpun yang sama…. lalu kenapa saya harus “sama” dengan orang lain?
tentu saja saya juga paham bahwa sebagai makhluk sosial, sebagai anggota suatu struktur sosial maka ada norma-norma umum yang perlu diikuti agar tidak dianggap pemberontak (lagipula sudah bukan jamannya lagi jadi pemberontak itu keren…), setidaknya agar tidak termarjinalkan…. norma-norma umum itu sebenarnya cukup mudah kok, banyak sekali buku-buku populer yang mengajarkannya, dan hampir di setiap bidang ilmu selalu ada setidaknya potongan-potongan norma itu. seperti murah senyum, empati, active listening, proaktif, dll…. dengan sedikit usaha maka tak akan sulit untuk melakukannya.
baiklah…. saya masih tetap ingin menjadi orang biasa, yang menjalani kehidupan yang biasa saja. tolong tak usah repot-repot memprotes dan mengingatkan saya akan betapa luar biasanya saya atau kehidupan itu sendiri. saya sudah tahu itu semua kok….. saya tidak memungkiri kemungkinan akan terjadinya extra ordinary things, atau kemungkinan esok lusa saya mengagumi luar biasanya kehidupan ini. karena segala sesuatu bisa berubah (dan bisa dipertahankan, dengan perjuangan dan kemauan yang kuat)!
selamat hari jadi cik….
selamat untuk kita….
saya tidak lupa dengan mimpi kita!